Showing posts with label jalan2. Show all posts
Showing posts with label jalan2. Show all posts

Tuesday, January 12, 2016

2662 km End Year Mudik 2015

* Jogyakarta *

Assalamu'alaykum

Road Trip Jawa kami dimulai ditanggal tanggal 18 Desember. Berangkat ba'da Shubuh kami memulai perjalanan mudik akhir tahun 2015 menuju tujuan pertama ke Jogyakarta. Sengaja Jogyakarta saya jadikan lagi tujuan liburan kami, karena liburan kesana waktu Idul Adha kemarin terasa kurang kenyang karena waktunya yg sedikit. Perjalanan kesana Alhamdulillah cukup lancar, walaupun diselang seling dengan 'dramanya' adek Naafi, tetapi itu malah jadi uji latihan  kesabaran untuk si anak dan orangtua. Kami singgah makan siang di Pekalongan dan mencoba Sop Buntut Bu Leman yang termasuk salah satu kuliner yang harus dicoba disana menurut googling :)

opinovi
Sop Buntut Bakar Bu Leman Pekalongan


Masuk Jogya ba'da Magrib dengan total perjalanan dari BSD Tangsel sekitar 14 jam melalui jalur utara.

* Hari Pertama
Masuk Jogyakarta kami langsung check in ke hotel. Istirahat sebentar meluruskan badan dan mandi lalu kami memutuskan makan malam di Bakmi Jowo Mbah Gito. Kami memilih ini berdasarkan referensi dari Yogyes. Sebelumnya dalam liburan yg lalu, sebetulnya kami sudah sempat kesini tetapi ternyata sudah habis sehingga tidak lagi menerima pengunjung walaupun saat itu masih ramai yang makan disana. Dalam kunjungan kali ini ternyata kami masih berjodoh serta bisa langsung dapat tempat. Tempatnya unik serta nuansa tradisional terasa, interiornya semua serba kayu dengan pramusaji yang berpakaian lurik semua.


opinovi
Bakmi Jowo Mbah Gito Jogyakarta

opinovi
Mie Nyemek dan Wedang Uwuh


Sajian andalannya tentu saja bakmi Jowo, godhok,nyemek ataupun goreng. Enak dan segar dikala cuaca Jogya yang habis hujan saya menyantap ini ditemani dengan segelas wedang uwuh. 

Setelah dari sini kami masih melanjutkan untuk menonton film disebuah mall yang baru saja dibuka di Jogya sebelum kembali lagi kehotel untuk beristirahat.

* Hari Kedua
Di hotel ini kami sebelumnya memutuskan untuk tidak mengambil paket sarapan, tujuannya untuk bisa mencoba kuliner pagi di Jogya. Yang ada malah bingung, cari referensi di google kok belum ada yang sreg dihati. Akhirnya sambil berkendaraan saja kami mencari. Gak terasa membawa kami ke daerah Malioboro, baru teringat  kalau disini ada soto daging Madura yg terkenal dan legendaris yang terletak dikawasan stasiun Tugu  yaitu Soto Sulung yang didirikan sejak tahun 1968. Nasinya pun disajikan secara unik, tidak langsung disajikan dipiring tapi dibungkus kecil-kecil dan pengunjung bisa mengambil sesuka hatinya jika 1 bungkus kecil itu belum terasa cukup.

opinovi
Soto Sulung Stasiun Tugu Jogyakarta


Dari sarapan soto, tujuan berikutnya adalah toko Progo, Jadi toko Progo ini adalah semacam supermarket pecah belah di Jogyakarta yg terkenal dikalangan ibu2 penghobi masak memasak atau tukang foto2 makanan kayak saya ini :). Sayapun taunya juga dari cerita-cerita ibu-ibu tersebut di blognya. Kenapa jadi terkenal, ya karena segala macam alat dan pernak pernik masak memasak serta props untuk foto-foto makanan bisa ditemui disini dengan harga yg setelah saya bandingkan kalau beli di Pasmod BSD dan online shop harganya lebih murah. Jadi gak terasa saja itu keranjang belanjaan saya sudah penuh, sehingga membuat saya berhenti sejenak untuk berpikir mana yang enaknya dikeluarkan lagi dari keranjang biar tidak memberatkan dompet saya :)). Sayang disini saya sampai kelupaan untuk memotret suasana di toko Progo krn keasyikan dan kebingungan untuk memasukkan barang kekeranjang saya sangking banyaknya pilihan :)

Dari Toko Progo kami memutuskan untuk mantai alias pergi ke pantai. Tadinya mau Parangtritis selain tempatnya tidak terlalu jauh, ini kan pantai yang sudah lebih terkenal duluan. Dalam perjalanan yang macet didalam kota Jojya, saya tiba-tiba bertanya ke si bapak, kalau ke Pantai Indrayanti jauh tidak, karena dari gugling saya juga mendapat info kalau pantai di Gunungkidul ini lagi kekinian. Kata si bapak setelah search di GPS katanya sekitar 70 km an dari kota Jogya, ya sekitar memakan waktu 1.5 - 2 jam an. Ya sudah akhirnya kami memutuskan kesana saja, dan juga waktunya tepat sampai sana nanti masih sore dan menjelang sunset. 

Diperjalanan menuju kesana kami melewati warung mangut lele Bu Is didaerah Jetis Bantul. Suami saya langsung membelokkan kendaraan memasuki area parkir yg sederhana tetapi luas. Saya sempat bertanya memang sudah digugling apa mangut disini enak? Hahaha kebanyakan saya ini memang mengandalkan hasil review kalau untuk tempat2 makan, penginapan dan wisata. Kata si bapak sudah percaya saya, wong yang parkir banyak berarti ini mangut terkenal dan enak :). Dan ternyata memang uenakk, saya dan si bapak sampai nambah-nambah. Cocok dengan selera kami, lelenya empuk dan bumbunya meresap sekali serta kuah santannya yg suegeerr karena tidak terlalu kental. Selain itu juga ada makanan pendamping lainnya yaitu beberapa sayuran rebus yang segar serta sambal terasinya. Dan yang penting dan buat kami geleng2 segitu banyaknya kami makan untuk 3 orang, yang harus dikeluarkan dari dompet gak sampai 100 rb rupiah :). 

opinovi
Mangut Lele Bu Is Bantul


opinovi
Mangut Lele


Dari istirahat makan siang kami melanjutkan perjalanan, mampir dulu disebuah musholla untuk sholat. Sempat bertanya kepada seorang bapak disana berapa lama lagi perjalanan yang harus kami tempuh , katanya sekitar 1 jam an lagi. Ternyata 1 jam an itu terasa cukup lama untuk saya yang tidak terlalu menyukai jalan yang naik berkelak kelok, perut rasanya lama2 mual. Tetapi  akhirnya kami menemuai jalan yang lurus lebar dan mulus dan disajikan pemandangan yang indah yang menuntun kami menuju kawasan pantai. 



Tiket untuk masuk kekawasan ini Rp.9.500/orang dan kita bisa menikmati 8 pantai yang berada dalam satu kawasan ini yaitu Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Krakal, Pantai Sundak, Pantai Pulang Sawah dan Pantai Poktunggal. Pantai Indrayanti sendiri nama aslinya adalah Pantai Pulang Sawah. Jadi terkenal dengan nama Indrayanti karena diambil dari nama pemilik restoran yang ada dikawasan tersebut. Namanya terpampang di papan nama didepan restoran tsb sehingga orang lebih mengenalnya dengan nama itu.

opinovi
Pantai Indrayanti Gunung Kidul Jogyakarta


opinovi
Pantai Indrayanti Gunung Kidul Jogyakarta


Pantainya sendiri indah, bersih dan dikelola dengan baik. Kabarnya kalau ketahuan membuang sampah sembarangan bisa kena denda Rp.10.000. Bibir pantainya tidak terlalu panjang. Awal-awal adek Naafi masih takut bermain ombak, tetapi lama-lama berani.


Perjalanan berikutnya dilanjutkan ke Pantai Drini, kami tidak memasuki kawasan pantai hanya mampir sebentar melihat pantainya dari tempat perahu nelayan berlabuh. Sayangnya kami tidak sampai menunggu saat sunset karena anak-anak mulai capek dan bosan sehingga meminta pulang.

opinovi
Pantai Drini Gunung Kidul Jogyakarta


opinovi


opinovi


Pulang dari sana, kami memasuki kota Jogya sudah malam sehingga memutuskan untuk langsung mencari makan malam. Daripada bingung-bingung kami memilih untuk lesehan makan gudeg yang berada didekat Tugu Jogya.




*Hari Ketiga
Tujuan kali kami memutuskan ke Candi Prambanan, walaupun saya sudah beberapa kali ke Jogya tetapi saya belum pernah masuk ke kawasan candi ini *kacian deh aku. Saat datang Alhamdulillah cuaca cerah dan kami sarapan dulu disana. Kalau menurut kami menunya ya biasa saja sih tetapi cukup mengganjal perut yang sudah lapar ini *ya jelas namanya saja kelaparan :).


opinovi
Candi Prambanan Jogyakarta

opinovi
Candi Prambanan Jogyakarta


Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahmasebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkanprasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan. Sumber Wikipedia


opinovi
Candi Prambanan Jogyakarta

opinovi
Candi Prambanan Jogyakarta


opinovi
Candi Prambanan Jogyakarta


Dan beberapa jam setelah kami disana, hujan mengguyur dengan sangat derasnya untungnya kami sudah selesai mengelilingi kawasan candi. Karena hujan deras itulah akhirnya kami membantalkan tujuan perjalanan kami berikutnya dan memilih jalan-jalan didalam kota saja.


opinovi


Lalu balik kehotel setelah Magrib untuk istirahat dan malamnya mencari makan dengan lesehan di Malioboro, ini juga ceritanya setelah saya membatalkan antrian saya digudeg Pawon yang terkenal tsb. Walaupun secara info katanya bukanya mulai jam 10 malam, tetapi ketika saya tiba disana sebelum jam tsb antrian telah panjaangg ditambah adek Naafi sangat rewel sehingga saya mengundurkan diri saja. Malioboro masih cukup rame walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kami memilih seadanya saja diantara banyaknya lesehan yg berjejer. Saya memesan burung dara dan si bapak bebek 2 potong dan aloott kata sibapak :)) dengan diiringi 3 orang pengamen yang datang silih berganti bergantian. Oh ya malam ini Nadhif tidak ikut dan memilih tinggal dihotel karena merasa sudah capek dan pesan untuk dibungkusi saja.


opinovi
Lesehan Malioboro


* Hari Keempat
Ini adalah hari terakhir kami di Jogya untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Sekitar jam 10 check out, sarapan dulu di Gudeg Yu Djum sekalian membeli oleh-oleh tsb untuk orangtua, kakak dan adek. Setelah itu langsung cuss Surabaya.

Surabaya we are coming 
#bersambung dibagian berikutnya kalau mood nulisnya sdh datang lagi :))












Thursday, October 1, 2015

Sunset di Candi Ratu Boko

Assalamu'alaykum

Situs Ratu Baka atau Candi Boko (bahasa Jawa : Candhi Ratu Baka) adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km disebelah selatan dari kompleks Candi Prambanan 18 km sebelah timur kota Yogyakarta atau 50 km barat daya kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Situs Ratu Baka terletak disebuah bukit pada ketinggian 196 meter dari permukaan laut. Luas keseluruhan kompleks sekitar 25 ha.



Pemerintah pusat sekarang memasukkan kompleks Situs Ratu Boko kedalam otoritas khusus, bersama-sama dengan pengelolaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan kedalam satu BUMN yang bernama PT. Taman Wisata Candi, setelah kedua candi terakhir ini dimasukkan kedalam daftar Warisan Dunia UNESCO. Sebagai konsekuensinya Situs Ratu Boko ditata ulang pada beberapa tempat untuk dapat dijadikan tempat pendidikan dan kegiatan budaya.

Terdapat bangunan tambahan dimuka gapura yaitu restoran dan ruang terbuka (Plaza Andrawina) yang dapat dipakai untuk kegiatan pertemuan dengan kapasitas sekitar 500 orang, dengan vista kearah uara (kecamatan Prambanan dan Gunung Merapi). Selain itu, pengelola menyediakan tempat perkemahan dan trekking paket edukatif arkeologi serta pemandu wisata. (Sumber Wikipedia)



Candi Ratu Boko ini adalah tujuan kami yg ketiga di hari Jum'at tsb dalam perjalanan liburan kami ke Jogya. Sebetulnya tidak ada rencana kesini, malah kami ke Candi Prambanan dulu, parkir beberapa saat tidak langsung turun karena menunggu matahari agak reda disore hari. Ketika kami mau membeli tiket masuk, sebelumnya kami membaca dulu penjelasan tentang candi Prambanan, nah selain itu ada juga penjelasan tentang Candi Ratu Boko terutama yg ditawarkan adalah wisata sunsetnya. Akhirnya setelah rembukan kami memilih pindah lokasi ke Ratu Boko karena waktu itu sdh menunjukkan pukul 16.30, waktu yg pas utk bersiap2 melihat sunset selain itu juga karena lokasinya yg tidak terlalu jauh sekitar 3 km dari Candi Prambanan. Sampai disana sekitar pukul 17 an sdh mulai ramai pengunjung, harga tiket masuknya adalah Rp. 25.000. Setelah naik keatas terpampang keindahan kota Jogya dan sekitarnya beserta sawah-sawah yg terbentang diwaktu sore, dari kejauhan tampak dengan gagahnya gunung Merapi dan juga candi Prambanan. Taman candi Ratu Boko ini juga indah dan terawat sekali.


Pemandangan sawah dari atas kompleks candi

Merapi dikala sore hari


Setelah melewati taman kami naik keatas candi untuk bersiap siap menyambut sunset. Cuaca yang cerah membuat sunset di Ratu Boko kelihatan indah sekali.

Taman

Sunset di Candi Ratu Boko

Kala matahari terbenam

Merapi dikala senja





Monday, September 28, 2015

Warung Mangut Lele Mbah Marto

Assalamu'alaykum

Liburan Idul Adha 1436 H kemarin kami sekeluarga berkesempatan touring ke Jogya dengan menggunakan mobil. Dalam waktu yg cuma 5 hari dari berangkat hingga pulang sebetulnya waktunya agak mepet krn kami berangkat Rabu malam dari TangSel, tiba di Jogya Kamis sore, pulang Sabtu pagi. Sehingga waktu efektif di Jogya cuma hari Jumat saja. Makanya sebelum berangkat kami sdh menyusun jadwal apa saja yg ingin dikunjungi. Salah satu yg pasti adalah wisata kuliner dan yang langsung terlintas dalam pikiran saya adalah Warung Mangut Mbah Marto.

Nama mbah Marto sudah tidak asing ditelinga saya dan banyak yang sudah mereview warung si mbah ini. Sekitar hampir 2 tahun yg lalu ketika kami ke Jogya, saat itu kami sudah sempat mencarinya. Namun karena persiapan ancer2 kurang matang yang ada malah kesasar dan orang yang ditanya malah mengatakan bahwa si mbah malah sudah meninggal. Akhirnya pencarian tidak diteruskan. Nah sepulang dari Jogya itu saya masih penasaran dengan si mbah ini dan saya gugling ternyata si mbah masih sehat dan masih berjualan. Makanya saya bertekad kalau berkesempatan lagi ke Jogya, saya ingin kembali lagi mencari si warung mangut mbah Marto ini.

Dan keinginan itu akhirnya tercapai. Sudah berbekal ancer2 dr seorang blogger  arah yg kami tuju sudah benar, hanya ketika masuk ke jalan kecilnya si bapak masih harus bertanya 2x untuk memastikannya. Jadi  patokannya masuk gang seberangnya kantor pos setelah ISI kalau dari arah kota, kantor pos dikiri jalan, gangnya dikanan jalan, masuk terus sampai ketemu masjid masuk terus sampai ketemu rumah tingkat baru belok kanan


Palang penunjuk warung didepan gang
Warung Mangut Lele nya Mbah Marto

Saat itu cuma ada 2 antrian mobil yg semuanya plat luar Jogya tetapi antrian sepeda motor lumayan banyak. Saya pikir lumayanlah gak terlalu sesak dan pasti dapat tempat dan  masih nyaman buat foto2. Mau masuk, si bapak masih bertanya lagi kepada salah salah satu pengunjung disitu apa betul ini warungnya mba Marto dan diiyakan kalau betul. Masuk kedalam kami masih celingak celinguk, kemudian ada pengunjung yg mengatakan terus aja pak masuk kedalam dapurnya, nanti ambil2 sendiri. 


Menuju kepawon/dapur

Tempat membersihkan lele dan cuci tangan

Begitu masuk kedalam dapurnya terlihat seorang mbah putri yg sedang duduk didepan tungku perapian memanggang lele sebelum dimangut. Awal mulanya saya pikir itu adalah si mbah Marto ternyata bukan, si mbah saat itu belum kelihatan. Saya suka dengan ambience dapurnya si mbah ini, dapur yang tidak pernah saya jumpai dikota :). Kami dipersilahkan untuk ambil sendiri nasi berserta lauk pauknya. Bermacam macam lauk pauk ditaruh didalam baskom baskom. Yang utamanya tentunya mangut lele, kemudian ada gudeg,krecek,opor ayam,sayur daun pepaya,garang asam,tahu tempe ampela telur yg dimasak jadi satu.

Pintu pawon dan ROL yg masuk kedalamnya
Suasana Pawon

Tungku perapian

Pawon yg dipenuhi asap karena sedang memanggang lele

Lele lele yg siap dipanggang

Proses pemanggangan lele

Lele lele yg sdh selesai dipanggang, sebelum dimangut

Yang pertama mengambil si mas Nadhif, saya sempat mengingatkan kalau mangutnya sepertinya pedas, kalau ragu2 kuatir tidak kuat mending ngambil yang lainnya. Tapi dia menyakinkan kalau dia bakalan kuat makan mangut lelenya. Saya juga mengambil mangut lele dan gudeg. Si bapak karena menggendong Naafi yg masih bobok akhirnya disepakati gantian untuk mengambil makannya. Untungnya saat itu masih ada bale2 yg kosong jadi Naafi bs ditidurkan disitu. 



Naafi ngelempuzzz

Ternyata krn ketinggalan sesuatu si bapak harus kembali kemobil. Nadhif mulai makan sedangkan saya seperti biasa sebelum makan harus foto2 dulu supaya afdol. Ternyata betul dugaan saya Nadhif kepedesan sekali :) tetapi ya tetap saja ia meneruskan makannya. Tidak lama si bapak datang sdh membawa sepiring nasi dan lauk pauknya tetapi ternyata ia tidak kebagian mangut lelenya yg sdh habis diambil sama pengunjung lainnya ketika si bapak kembali kemobil :). Untungnya saya belum makan si mangut lele saya dan karena melihat ekspresi Nadhif kepedesan jadinya saya tidak berani makan dan menawarkan mangut lele saya ke si bapak, lauknya bapak yg berupa opor ayam pindah kepiring saya :). Begitu bapak makan kata2 yg terucap mantap pedesnya. Saya tanya sampai level berapa pedesnya? Kata si bapak level 10 untuk yang gak suka pedes kayak saya :). Total dana yg kami habiskan untuk makan 3 orang + minumnya 70 ribu saja, suatu hal yg di Jakarta sdh sangat susah mendapatkan harga segini walaupun sekelas warung.

Lauk pauk yg disajikan dan prasmanan

Mangut lele dan gudeg

Soal mangut lelenya saya tidak bisa mereviewnya karena saya tidak ikut makan, tetapi kata si bapak yg sudah bolak balik makan mangut segala jenis ikan mulai lele, iwak pe dan pindang tongkol, soal rasa masih ada yg lebih enak yaitu mangut sang ibunda (ya sdh pasti, kecap pasti no 1 :). Tapi yang bisa saya tulis makan disini sungguh meninggalkan kenangan yaitu tentang kesehajaan dan kesederhanaan, suasana tradisional dan ndesonya yg jarang didapat ditempat lainnya. Melihat langsung sosok mbah Marto yg diusianya katanya sdh masuk kepala 9 etos kerjanya masih tinggi. Semoga suatu saat ketika kami diberi kesempatan kembali ke Jogya, kami bisa menjumpai beliau lagi :)

Mbah Marto yg lagi asyik menghitung duit

Mbah Marto

Wisata Kalibiru

Assalamu'alaykum

Wisata Kaliburu Jogya adalah tujuan kami yang pertama dari jalan-jalan liburan Idul Adha 1436 H di Jogyakarta. Kami menjadikan ini sebagai salah satu tujuan utama, melihat banyaknya foto2 bersebaran dimedsos tentang Kalibiru terutama foto-foto diatas rumah kayunya. Berangkat dari hotel menjelang pukul 10  ternyata waktu ini kurang pas untuk berangkat kesana. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam an, lokasi wisata ini terletak di Kabupaten Kulon Progo DIY. Untuk mencapai Kalibiru kami melewati Waduk Sremo, sayang saat itu saya tidak mengambil foto disana. Dari Waduk Sremo treknya akan naik cukup tajam menuju kesana, tetapi dibeberapa spot ada petugas yang menjaga dan akan mengarahkan.

Kalibiru terletak di Pegunungan Menoreh pada ketinggian 450 mdpl. Saat tiba disana waktu sudah menunjukkan pukul 11, kenapa kami bilang tidak tepat berangkat menjelang siang karena saat itu cuacanya cukup terik sekali ditambah kadang-kadang ada debu yang beterbangan dengan kencangnya tertiup angin. Kalau membawa anak kecil, pastikan pengawasan dengan ketat jangan dibiarkan lepas sendiri karena kondisinya yg naik keatas dan kanan kiri yang berupa tebing.



Karena saat itu sudah ramai dengan pengunjung jadi mobil hanya bisa parkir dibawah, dan perlu jalan lumayan untuk naik keatas. Kalau misalnya tidak ingin ngos2an karena jalannya yg naik, dibawah cukup banyak ojek yg tersedia untuk mengantar keatas dengan tarif 5000 sekali jalan. Dan kamipun memilih naik ojek karena memang cuacanya yg tidak mendukung saya untuk jalan naik. Tiket masuk ke kawasan wisatanya adalah Rp. 10.000,-

Waduk Sermo dari atas bukit


Yang ditawarkan dari wisata alam ini adalah pengunjung dapat melihat pemandangan pebukitan di bukit Menoreh dengan view Waduk Sermo dari kejauhan. Yang tentu paling dicari adalah foto diatas rumah pohonnya yang sangat ngehits dan kekinian itu, Sayang karena panjangnya antrian kami membatalkan untuk naik dan berpose diatas rumah pohon tsb. Sayang sekali memang karena tujuan utama kesana karena tertarik karena hal tsb dengan pemandangan Waduk Sermonya yg indah.
Mudah-mudah kalau ada kesempatan kembali lagi kesini kami bs berpose disana

Indahnya Waduk Sermo dilihat dari pos pandang

Bapak dan Adek memandang view Waduk Sermo


Mama, Nadhif dan Naafi