Showing posts with label didif. Show all posts
Showing posts with label didif. Show all posts

Monday, July 13, 2009

Nadhif Khitan

 Alhamdulillah tanggal 22 Juni kemarin Nadhif  telah menjalani khitan diusianya yg ke 7 thn. Banyak yg mangatakan masih terlalu kecil, tetapi menurut kami ketika sang anak sudah meminta khitan maka dampingi dan lakukanlah.
Sebetulnya proses Nadhif mau khitan juga mendadak, sebelum libur sekolah dia mengatakan memang ingin khitan tapi maju mundur iya tidak. Kami biarkan saja. Sehari setelah terima raport dengan mantapnya dia bilang besok aku mau khitan jam 10 pagi titik. Kami tanya berulangkali betul dan siap sdh mau khitan sambil menjelaskan proses dan makna khitan itu sendiri.
Karena sepertinya dia mantap, kami memutuskan mengkhitankannya di RS PHC yg melayani metode khitan smart klamp, dengan tujuan tes mental karena disana menjelang liburan sekolah pasti banyak anak2 yg mau khitan, kalo setelah melihat anak yg habis khitan Nadhif merasa keder hatinya ya sudah tidak jadi, tapi kalo mantap ya lanjut.
Sebelum namanya dipanggil Nadhif terlihat sangat santai, satu demi satu secara bergantian anak yg habis khitan keluar dr ruang "eksekusi" dia sama sekali cuek tidak terpengaruh, begitu namanya dipanggil masuk keruang "eksekusi" mulai rewel dan ciut hatinya, tadinya gak mau tetapi akhirnya mau tapi prosesnya heboh karena yg megangi saja 6 orang (mama,bapak, 2 mantri, 1 suster dan pak dokternya) belum lagi selama itunya "diopeni" nangis,teriak,ngoceh macem2 sampe seisi ruangan ketawa mendengar ocehannya yg macam2 tp lucu sekali sampe pak dokternya bilang 'mas..kamu itu pemain sinetron banget". Proses dari bius lokal sampe pemasangan cincinnya sendiri kira2 10-15  menit mungkin krn Nadhifnya juga tidak begitu kooperatif. Lima hari setelah setelah itu baru cincinnya dibuka...
Oh iya minggu lalu Nadhif sdh mulai sekolah sekarang kelas 2 SD, waktu pelajaran bahasa Indonesia murid2 diminta menulis cerita pengalamannya waktu liburan sekolah. Ini yang ditulis oleh Nadhif (tanpa mengurangi dan menambah)
"Pada hari Senin kemarin aku sunat. Sunatku di rumah sakit PHC, terus aku ditemanin eyang bapak mama. Sesampai disana aku mengantri kemudian aku sunat cincin. Aku dibius agar tidak sakit kemudian cincinnya dipasang terus dikunci. Sehabis itu aku pulang kerumah. Rumahku di Tropodo GDR. Terus orangtuaku membelikan aku hadiah. Obatnya manis sekali terus aku ketagihan obatnya. Terus dikasih betadin dan baby oil. Pertama takut terus nggak takut lagi. Aku terus mendapat game dari bapak kemudian jadi gembira terus. Sambil main diobatin. Hari Sabtu pencabutan terus aku ketemu kakak kelasku baru disunat kelas 5. Kemudian rasanya geli lama-lama tidak terasa geli karena aku percaya bapakku. Terus aku belum berani megangnya tapi aku sudah berani cawek."
Before n After Khitan

Monday, June 30, 2008

Doa Kakak...

Tadi sehabis sholat Isya, Didif berdoa dengan bahasa kanak2nya " Ya Alloh aku mohon sembuhkan adikku dari sakitnya" serta doa untuk kami orangtuanya  dan itu diulangi beberapa kali.
Aku kadang masih sering suprise dibalik sikapnya yg aktif, dibalik emosinya yg kadang tidak bisa diduga, dia juga sering membuat kami tidak menyangka oleh ucapan-ucapannya yg menurut kami ndewasani dibandingkan usianya yg baru 6 thn.

Saturday, February 23, 2008

Hasil psikotes Didif....

Hari Sabtu kemarin kami ke Almuslim untuk mengambil hasil pengumuman tes masuk SD dan psikotesnya yg dilakukan minggu lalu. Begitu amplop kami buka yang aku cari adalah kata "diterima" dan ternyata memang diterima. Setelah itu baru melihat hasil psikotesnya. Tersenyum adalah ekspresi pertama, karena hasilnya ternyata memang seperti yg kami bayangkan. Dari 3 hal yg menjadi perhatian kami yaitu masalah motorik halusnya, konsentrasi dan emosinya ternyata masalah konsentrasi dan emosinya mendapat penilaian "Sedang" dan cuma 2 hal itu yg paling rendah nilainya dibandingkan point2 lain yg mendapat penilaian. Aspek2 lain nilainya rata2  semua alias cukup dan normal saja :). Langkah selanjutnya adalah menunggu....


Thursday, November 8, 2007

Selamat Ulang Tahun Didif



Didif sayang selamat ulang tahun yang ke 6 ya nak. Semoga Didif selalu dalam lindungan Allah SWT, dianugrahi rezeki berupa kesehatan yang terbaik yang Allah berikan kepadamu, semoga menjadi anak yang sholeh dianugrahi budi pekerti yang santun dan sabar yang dapat menjadi penyejuk mata dan hati kami, semua yang meyayangimu dan orang-orang disekitarmu. Doa mama dan bapak selalalu menyertaimu sayang. Amiin. Keep smile my beloved son.

Monday, October 15, 2007

Kartu Lebaran Didif

Dua hari sebelum lebaran, sepucuk kartu lebaran tergeletak diteras rumah dikirim oleh pak pos. Tumben hari gini ada kartu lebaran pikirku, begitu aku lihat aku langsung tersenyum sendiri ternyata kartu lebaran itu dikirim oleh Didif dengan alamat sekolahnya, yang berarti dia mengerjakannya disekolahnya. Sengaja kartu lebaran itu tidak aku buka, nunggu Didif pulang dari rumah eyangnya. Begitu dia pulang, langsung kutunjukkan ke dia.
Aku   : "Dif, terimakasih ya kartu lebarannya sudah mama terima".
Didif : Sambil tersenyum malu, " Ma, maaf ya tulisanku jelek mungkin mama    gak   bisa baca".
Aku   : "Gak sayang, tulisannya Didif bagus kok, mama bisa baca yang Didif tulis".
Didif : " Aku kok heran ya Ma, pak posnya kok tau alamat rumah kita padahal aku nulis nomernya salah".
Aku : "Oh..nomer rumahnya betul kok, mungkin sama bu guru dibetulin jadi pak posnya gak salah kirim".

Waktu bapaknya pulang, bapaknya sempat bertanya," Ma, ini apa?". Itu kartu lebaran dari Didif buka aja mas, sengaja memang belum aku buka nunggu mas pulang, kataku. Begitu Bapaknya buka dia juga tersenyum simpul. Didif lagi lagi meminta maaf ke Bapaknya karena tulisannya yang menurut dia jelek. Terimakasih Didif, kartu lebaran pertamamu buat kami akan kami simpan sebagai kenangan.

Sunday, September 16, 2007

Maafkan kami Nak..

Hari Sabtu sore minggu lalu Faca ada jadwal fisioterapi, untuk menggantikan jadwal hari Kamis yang tidak bisa dilakukan. Ada suatu pola tiap Bapaknya libur Didif pasti ngajak keluar jalan-jalan, alasannya karena dia merasa bosan dirumah terus. Ok, sebelumnya kami sudah bilang ke Didif kalau adiknya sore itu ada jadwal latihan, nanti jalan-jalannya sesudah adik selesai latihan, karena adik juga ingin ikut. Ternyata Didif tidak mau menerima alasan itu, sambil marah dia berkata kalau Didif harus duluan ke mall, sesudah itu beru nganter adik latihan. Ya tidak bisa seperti itu karena memang waktunya sudah mepet untuk berangkat ketempat latihan. Dengan bahasa yang lembut kami jelaskan kalau adik sudah ditunggu oleh mbak Dwi terapsinya untuk latihan, dan latihannya adik juga tidak lama setelah itu baru kita sama-sama ke mall. Kalau kita ke mall duluan, adik tidak bisa latihan, tp kalau sesudah latihan kita ke mall malah waktunya bisa lebih leluasa dan lebih enak.  Didif tetap tidak bisa menerima alasan itu, dia semakin marah saja dan dengan menangis tersedu sedu dia berkata, " kenapa sih selalu adik yang duluan aja, aku selalu terakhir, selalu begitu",. Ketika Didif berkata seperti itu hati mama langsung 'deg' miris dengarnya. Bapaknya lalu memeluknya dan menjelaskan bahwa adik perlu latihan karena adik sakit. Didif tetap saja menangis dan ngomong aku gak sayang sama adik.  Apakah itu hanya luapan emosi sesaat, atau memang perasaan yang selama ini dia pendam. Karena selama ini kami juga berusaha adil antara Didif dan Faca, walaupun Faca memang anak yang berkebutuhan khusus tapi itu tidak membuat kami selalu mendahulukan Faca. Kami juga melihat situasi prioritas mana yang harus didahulukan dulu. Setelah itu kami merenung, selama ini Didif kadang kelihatan ngalem sekali kepada kami, karena memang dia ingin menuntut perhatian kami. Mungkin kami tidak sadar ada beberapa tindakan kami yang mebuat dia cemburu kepada adiknya, atau kami terlalu menuntut agar dia juga mau mengerti kondisi adiknya padahal dia mungkin masih  kecil untuk mengerti tentang hal itu. Maafkan kami Nak, kalau ada tindakan kami yang membuat kamu sedih. Kami sayang sekali sama Didif.